Showing posts with label different. Show all posts
Showing posts with label different. Show all posts

Monday, 1 October 2012

Oleh-Oleh Dari Penjelajah Perbedaan

"Untuk belajar menjadi orang baik dibutuhkan waktu minimal 3 tahun, tetapi untuk mengajari orang untuk berbuat tidak baik cukup dalam waktu 3 hari saja."

-Pepatah Tionghoa-

"Yang susah itu mengislamkan orang Islam sendiri."

-K.H. Ahmad Haedar-

"Kami menjalin kerukunan di sini. Kalau ada yang meninggal kami ikut sampai proses kremasi. Prinsip kami satu, kita ini tetangga."

-H. Ubaidillah-

"Keberagaman itu kekayaan. Meski kami Katolik, yang bukan Katolik juga saudara. Dalam Gaudium et spes, semua orang akan diselamatkan pada akhir zaman, siapapun itu, asalkan punya niat yang baik."

-Pastor Oscar , SS. CC-

"Jika kita mau hidup selaras dengan Tuhan, hiduplah selaras dengan alam. Di agama kami tidak ada konsep mengenai surga dan neraka. Semua orang yang sudah meninggal akan kembali ke pangkuan Thian. Urusan nanti di sana mau diapakan, ya itu urusan manusia tersebut bersama Thian nanti."

-Ko A Kiun-

"Kamu tahu kenapa sekarang banyak kerusuhan antar agama? Mereka yang rusuh itu belum menghayati agamanya. Semua agama sama, mengajarkan cinta kasih. Kamu tahu apa yang saya ucapin setiap pagi sebelum saya mulai beraktifitas? Saya bilang, bismillahirrahmanirrahim."

-Om Tommy-

Tadi adalah beberapa oleh-oleh quotation-quotation mengenai kerukunan dan keberagaman yang menurutku menarik, yang aku dapatkan kemarin selama kunjungan ke beberapa tempat ibadat bersama dengan para peserta Pelatihan Jurnalistik Lintas Agama yang diadakan Forum Lintas Agama Deklarasi Sancang.

Masih ada banyak lagi pelajaran berharga di antaranya kami belajar mengenal religiositas setiap agama masing-masingnya seperti apa, sejarahnya, bagaimana menjaga kerukunan, termasuk menemukan jawaban-jawaban kenapa perpecahan terjadi. Oh iya, kemarin juga aku berkesempatan mencicipi makanan-makanan khusus untuk para vegetarian. Dan rasanya ternyata, ENAK! Aku nggak ngerti bagaimana caranya tepung terigu diolah menjadi sate yang seenak sate ayam lazimnya.

Benar-benar sebuah cara yang menyenangkan untuk menutup bulan September, dan sebuah pengalaman yang luar biasa mahal. Besok, lusa, dan hari-hari ke depannya lagi, aku rasa aku bisa menatap perbedaan dengan lebih terang lagi.

O iya, satu lagi oleh-oleh dari kunjungan ke rumah ibadat kemarin. Oleh-oleh yang terakhir adalah...
Setoples permen yang dikemas lucu, buah tangan dari tante-tante di Vihara Darma Ramsi

Friday, 10 August 2012

Merasa Terasing


Saat ini sedang ada di Cirebon. Memanfaatkan kesempatan dua minggu libur sejenak dari pelajaran katekisasi. Rasanya melegakan. Tapi sejujurnya, aku berharap kalau saja bisa menghabiskan dua minggu ini di tempat lain, selain di sini. :(

Sejak dulu, tidak pernah 100% merasa nyaman di sini. Aku tidak pernah bisa merasa cocok dengan budaya basa-basi, ramah-tamah, saling sungkan, dan kekolektivan di sekitarku. Aku bukan tipe orang yang bisa menjadi munafik hanya demi menjaga perasaan orang lain, padahal yang orang itu lakukan salah. Aku bukan tipe orang yang betah menghadapi basa-basi tidak penting yang menghabiskan waktu. Bagiku, apa yang kamu mau, katakan! Tidak perlu berputar-putar. Aku lelah menunggu sesuatu atau seseorang yang tidak penting hanya demi alasan kebersamaan. Aku lelah dengan alasan takut melukai perasaan. Kenapa manusia harus sesensitif itu?

Bagiku, merasa nyaman di tempat ini cukup sulit. Di sini, aku merasa dibedakan. Semua gerak-gerik diperhatikan tetangga, dipergunjingkan. Informasi setengah-setengah mengenai masa kecilku jadi bahan lezat untuk obrolan. Demi seluruh umat manusia di bumi, kenapa orang-orang itu tidak bisa hidup tanpa gosip? Baiklah, paragraf yang ini betul-betul murni sebuah keluhan.

Kenapa ya? Mungkin kalau mengambil apa yang dikatakan oleh Eric Weiner dalam buku Geography of Bliss, aku ini terjerat epifani yang sangat jelas di mana aku menyadari bahwa aku lahir di negara yang salah. Kalau dipersempit, aku lahir di tempat dan keluarga besar yang salah. Ditambah lagi, tinggal di lingkungan yang salah. 

Di sini, aku benar-benar merasa terasing. Aku tidak tahu apakah hal seperti ini sebenarnya salah atau tidak. Mengutip W.S Rendra pada salah satu puisinya, semua pendidikan dan pengetahuan yang dimiliki seseorang percuma saja ketika ia merasa terasing di tempat asalnya. Kalau begitu apakah semua ini percuma sebenarnya? Apakah salah merasa terasing seperti ini?

Thursday, 2 August 2012

I'm Proud To Be Me

"I wish being me. Waktu SMP gue bisa be myself." 


Annisa - Cin(t)a


Melanjutkan postingan sebelumnya.
Menurutku, bayi dan anak kecil adalah makhluk yang paling jujur. Masih murni, dan masih berani menjadi diri sendiri. Anak kecil tidak takut menangis, tidak takut mengekspresikan kesukaan ataupun ketidak sukaannya. Anak kecil tidak pernah takut mencoba, tidak pernah takut menjadi dirinya sendiri.



Tapi yang terjadi pada sebagian besar orang, semakin bertumbuh anak kecil itu, semakin pudar pulalah keberaniannya untuk menjadi diri sendiri. Kenapa?

Hm, mungkin karena anak kecil belum harus menghadapi banyak tekanan dan tuntutan. Tidak perlu memikirkan penampilan, tidak perlu memikirkan harapan orang tua, tidak perlu memikirkan omongan masyarakat. Meski sayangnya, sekarang ini tekanan dan tuntutan terhadap anak kecil semakin tinggi sehingga banyak anak kecil kehilangan sisi kanak-kanaknya.

Lalu apakah itu artinya lebih baik kita tidak pernah tumbuh dewasa?
Hm, tidak juga... Hanya saja lebih baik kita tidak kehilangan seluruh sisi kanak-kanak kita ketika kita tumbuh dewasa. Pernahkah kita bertanya-tanya seperti Annisa dalam film Cin(t)a? Kira-kira lebih be myself mana diri kita sekarang dengan diri kita dulu ketika kecil?

Kalau waktu kecil kita suka joget-joget waktu dengar lagu India, kenapa sekarang kita takut mengakui kalau kita suka sama lagu-lagu India hanya karena takut dibilang kampungan? Kalau dari kecil kita suka menari dan setelah dewasa kita sebenarnya sadar bahwa passion dan bakat kita adalah menari kenapa harus mengubur impian menjadi penari?

Dulu aku juga sempat tidak begitu nyaman dengan apa adanya aku. Tapi entah kenapa suatu hari, dan lama-kelamaan, aku merasa semakin nyaman dan justru bangga. Aku bangga dengan tubuhku yang kelewat kurus dan memang susah gemuk. Aku bangga dengan sifat idealis dan pemikirku. Aku bangga menjadi seorang individualis. Aku bangga dengan piihanku untuk dibaptis. Aku bangga dengan pilihanku menjadi jurnalis.


Menjadi diri sendiri itu bukan sebuah dosa. Mengubur jati diri sendiri itu justru yang menurutku bisa disebut dosa. Tuhan sudah menciptakan kita dengan tanganNya sendiri, menjadikan kita apa adanya kita yang berbeda dari yang lain, bahkan dari saudara kembar kita, lalu kenapa kita tidak mau menunjukkan keunikan yang sudah dikasih itu?

Aku harap akan ada lebih banyak orang yang tidak berkata, "I wish being me."
Sebaliknya, aku harap akan ada lebih banyak orang yang berkata, "I'm proud to be me."

Be Dare To (Really) Live!

"Everyman dies, not every man really lives."


Mel Gibson - Braveheart


Semua orang pasti meninggal, tetapi tidak semua orang benar-benar hidup sebelum dia meninggal. Penting buatku untuk menyadarinya. Kenapa? Karena banyak orang yang aku kenal, takut untuk hidup. Takut untuk memenuhi panggilan hidupnya. Takut menjadi diri sendiri. Takut yang lain-lain. Banyak rasa takut.

Rasa takut itu pada akhirnya banyak membuat orang terikat terlalu kuat pada konstruksi yang sudah ada dalam masyarakat. Lahir, tumbuh, belajar, dewasa, keluar dari rumah, bekerja, berkeluarga, memiliki keturunan, mendidik generasi baru, menjadi tua, dan mati. Seperti itu terus, dan generasi selanjutnya pun akan berjalan seperti itu. Seperti siklus yang tidak terputus.

Masalah kegemaran, kebiasaan, pekerjaan, agama, idealisme, memilih pasangan hidup, memilih jalan hidup, semua terikat pada konstruksi yang sudah ada. Kenapa harus? Apakah semua orang harus mengikuti jalur yang sudah ada? Kalau begitu tidak ada perbedaan berarti antara kehidupan manusia dengan robot. Sudah terkontrol.

Banyak orang takut menjadi beda. Kebanyakan, mengikuti keluarganya. Lebih luas lagi, mengikuti pilihan yang sudah ditawarkan masyarakat. Jarang ada yang mau bertahan dengan pilihannya ketika pilihan itu bertentangan dengan konstruksi yang sudah ada di masyarakat. 

Aku kasih beberapa contoh konstruksi yang sering ditemui di masyarakat dan menghalangi kita jadi diri sendiri.

1. Kalau kamu laki-laki dan kamu suka warna pink, kamu sulit untuk mengakuinya karena takut dibilang banci. Katanya warna pink itu warna perempuan
2. Kalau kamu laki-laki dan kamu suka menari, belum banyak masyarakat bisa menerimanya. Kecuali kamu berprestasi, kamu akan tetap dibilang banci
3. Kalau kamu perempuan, supaya dibilang feminin kamu harus pakai rok, berambut panjang, suka masak, berkebun, menari, atau menjahit. Perempuan yang hobinya berdebat, melakukan olahraga keras, atau tidak suka dandan, lebih sulit diakui feminin
4. Profesi yang dianggap menjanjikan adalah dokter, arsitek, pengusaha, akuntan, PNS
5. Orang yang mempelajari ilmu pasti lebih sukses daripada ilmu sosial
6. Belum pernah pacaran sampai kamu kuliah itu freak
7. Menikah di atas usia 25 (untuk perempuan) dan 30 (untuk laki-laki), atau bahkan memilih tidak menikah sama sekali itu kelainan
8. Agama harus mengikuti keluarga
9. Memilih pasangan harus seiman 
10. Selepas SMA, seseorang harus kuliah
11. Meninggalkan hidup mapan demi mencoba hal-hal baru itu dianggap gila

Selain kesebelas contoh tadi, masih ada lebih banyak lagi konstruksi sosial yang menyesakkan. Entah kenapa, sejak kecil, menurutku semuanya nyaris nonsense. 

Kalau kamu laki-laki tetapi kamu suka warna pink, lalu kenapa? Apakah itu artinya kamu bukan laki-laki? Kalau kamu suka menari atau memasak, dan memilih menjadi penari misalnya ketimbang menjadi dokter, arsitek, atau akuntan, lalu kenapa? Tidak semua dokter, arsitek, ataupun akuntan sukses. Selama itu memang bukan passion, akan sulit. Aku tetap percaya, apapaun pekerjaan kita, selama kita melakukannya dengan passion, kita bisa sukses.

Kalau kamu berumur 30 tahun dan kamu belum menikah, lalu apakah kamu harus memaksakan diri untuk menikah dengan orang yang mungkin tidak kamu cintai? Kalau kamu memilih untuk tidak berpacaran dulu, lalu apakah itu menjadikan kamu aneh? Kalau kamu memilih kepercayaan yang berbeda dari orang tua kamu, keluarga kamu, leluhur kamu, apakah itu artinya kamu sesat?

Banyak orang mengubur jati dirinya demi mengikuti konstruksi yang ada. Banyak yang tidak siap dengan konsekuensi menjadi berbeda, meski itu artinya kita menjadi diri sendiri. Come on guys, we are all unique! Tidak ada dua orang manusia yang benar-benar persis sama. Lalu kenapa kita tidak membiarkan setiap orang berkembang dengan caranya masing-masing, dan menjadi dirinya sendiri? Kenapa harus mengikat seorang manusia dengan konstruksi konyol yang menyesakkan dan tidak mengembangkan?


Tuhan menurunkan kita ke dunia, bukan ingin melihat seorang dokter, akuntan, lulusan S3, Muslim, Kristiani, Budhis, ataupun yang lainnya. Yang Tuhan mau lihat adalah kita bertumbuh sebagai manusia dengan segala keunikannya untuk bersama-sama memelihara dunia. Manusia yang benar-benar hidup, menghargai kehidupan dan dunia yang telah diberikan padanya, dan bukannya robot yang menjalankan perintah sesuai komando yang diberikan. Kalau begitu, Tuhan seperti sedang main rumah-rumahan saja.

Bukan berarti semua konstruksi sosial itu salah. Aku hanya mengkritisi fakta bahwa selama ini seorang anak harus mengikuti konstruksi sosial yang sudah ada. Menurutku kenapa tidak membiarkan semuanya berjalan apa adanya untuk setiap pribadi?

Selama ini kita sadar kita ini makhluk hidup. Tapi that's it. Kesadaran berhenti sampai di situ. Tidak banyak yang berlanjut lebih dalam seperti menyadari bagaimana kita hidup, seperti apa kita hidup, untuk apa kita hidup, apa yang bisa kita lakukan selama kita hidup, dan kenapa kita harus hidup seperti ini atau seperti itu.

Bukan berarti kita harus menjadi seorang penganut eksistensialisme untuk benar-benar hidup.  Cukup dengan menyadari bahwa kita berbeda, dan kita punya hak untuk berbeda, itu cukup. Dengan menyadari hak itu, mungkin kita bisa lebih memiliki keberanian untuk menjadi diri sendiri. Keberanian untuk benar-benar hidup.

"Everyman dies, not every man really lives."

So, be dare to really live! Tidak perlu takut bila harus menjadi outsider.

Wednesday, 1 August 2012

Di Atas Perbedaan Keyakinan

Tidak mudah bersatu di atas perbedaan, tetapi bukan artinya tidak bisa. 

Isu perkawinan beda agama masih jadi isu yang sensitif di tengah masyarakat Indonesia. Banyak hubungan gagal atau ditentang dengan alasan perbedaan keyakinan. Orang-orang masih menganggap bahwa suatu rumah tangga harus dibangun dengan satu dasar yang persis sama, dengan begitu barulah rumah tangga bisa berjalan dengan harmonis. Alasannya mulai dari meminimalisir konflik, mempertahankan keyakinan masing-masing, sampai alasan ketidaksukaan pribadi terhadap keyakinan tertentu.

Menurutku, mereka salah. Dengan semua potensi konflik yang mereka sebutkan, nyatanya perkawinan beda agama pun bisa berjalan dengan harmonis, sama halnya dengan perkawinan yang dibangun di atas sebuah dasar keyakinan yang sama. Buktinya, Papa dan Mamaku.

Orang tuaku adalah pasangan dengan agama berbeda. Papa Budha, dan Mama pemeluk Islam. Dan mereka bisa bertahan hingga 14 tahun dan itu pun dipisahkan oleh maut. Selama 14 tahun pernikahan mereka, mereka tetap pada keyakinan masing-masing dan tidak pernah ada satupun pertengkaran yang berkaitan dengan keyakinan. Komunikasi mereka berjalan lancar, dan mereka tidak pernah saling mengganggu ketika yang lain menjalankan keyakinannya.

Terhadapku, mereka mengajarkan keduanya. Papa mengajakku ke kelenteng, berdoa di sana, dan memperkenalkan Tripitaka dengan bahasa Sanksekerta kepadaku. Di rumah, Mama juga sering menceritakan kisah nabi-nabi, mengajariku membaca Al-Quran, dan sempat memperkenalkan aku pada konsep solat. Di samping semua itu, mereka berdua malah sepakat memasukkan aku ke sebuah sekolah Katolik. :)

Kalau orang-orang lain mendengar ceritaku, mereka akan menganggap hal tersebut lucu dan luar biasa. Ini membuktikan bahwa sebegitu tidak mungkinnya pernikahan beda agama di mata mereka. 

Berlatar belakang keluarga pelangi ini, aku tumbuh menjadi manusia yang nggak mengerti kenapa orang-orang harus memperdebatkan dan alergi pada perbedaan. Aku malah suka menemukan perbedaan. Dan menurutku perbedaan itu indah. Sekalipun tiga tahun yang lalu aku gagal menjalin hubungan yang berlandaskan perbedaan, tetapi hal itu tidak membuatku takut untuk menjalani hubungan berbeda lainnya.

Menurutku perbedaan tidak seharusnya dijadikan penghalang. Malah perbedaan bisa memberikan warna  lain dalam sebuah hubungan. Kuncinya sebenarnya hanya keterbukaan, dan komunikasi yang lebih intems dam dalam. Tidak hanya di antara pasangannya saja, tetapi juga di antara keluarga.

Sampai sekarang aku belum pernah memilih orang berdasarkan agama. Dan aku pun tidak pernah memasukkan 'seiman' sebagai salah satu kriteria yang aku cari. Aku selalu berkata pada Tuhan, suatu hari nanti aku ingin Dia memberikan seseorang untuk menemaniku duduk di gereja dan memujaNya bersama-sama. Tapi kalaupun orang itu tidak bisa duduk di gereja dan memujaNya bersamaku, tidak apa-apa. Biarkanlah kami memujaNya dengan cara kami masing-masing. Ku pikir hal tersebut juga indah... 

Ada beberapa film yang indah mengenai hubungan yang berlandaskan perbedaan yang pernah aku tonton. Mungkin untuk kalian yang saat ini sedang mempelajari perbedaan atau menjalani hubungan yang berbeda dan masih menganggapnya rumit, kalian bisa menonton film ini.

1. Cin(t)a


Karya Sammaria Simanjuntak. Film ini menceritakan tentang Cina (Kristen) dan Annisa (Islam), yang sama-sama mencintai Tuhan dan saling mencintai. Sayangnya  mereka menyebut Tuhan dengan nama yang berbeda, dan mereka memujaNya dengan berbagai cara. 

Buat yang sudah menonton film ini tapi belum tahu kalau ada epilognya, aku muat linknya di sini=>



2. 3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta

Yang satu ini disutradarai oleh Benny Setiawan. Dimainkan oleh Reza Rahadian, Fira Basuki, dan Arumi Bachsin. Tokoh di sini adalah Rosid dan Delia. Seorang pemuda Muslim dan gadis Kristiani. Again.

Film-film tadi mengangkat perbedaan dengan indah. Meski keduanya tidak berakhir dengan pernikahan di antara kedua tokoh utamanya, tetapi semoga dengan film ini bisa membantu kita melihat bahwa perbedaan itu bisa dijadikan indah dan sebenarnya tidak perlu dijadikan penghalang.

Selama masing-masing bisa teguh pada keyakinannya, tidak saling mengganggu, saling berkomunikasi, saling memahami, dan berkompromi, aku pikir hubungan dengan perbedaan keyakinan pun bisa berjalan selancar dan seindah hubungan dengan satu keyakinan. Bahkan bisa lebih indah.

Kita memang sudah berbeda, tetapi tidak perlu lagi dibedakan. Terima saja kalau kita memang berbeda. Dengan begitu kita bisa menjalani hubungan tersebut dengan lebih ikhlas.

Jadi, aku mau mengulang statement awalku tadi. Tidak mudah berdiri di atas perbedaan, tetapi bukan berarti hal tersebut tidak bisa dilakukan.

Tuesday, 31 July 2012

Yunus, Pembangkang Cerdas (Sinting),Tidak Munafik

Sejak kecil, salah satu tokoh idolaku adalah Nabi Yunus. Iya, Yunus. Yunus yang itu... Yang lari dari perintah Tuhan, terjebak badai, dijatuhkan dari kapal, dan kemudian dimakan oleh ikan paus, dan diam di dalamnya selama tiga hari tiga malam. 


Nggak banyak yang mengidolakan Yunus. Bahkan jujur, aku belum pernah bertemu dengan orang yang mengidolakan Yunus. Sebagian besar berpendapat apa yang dilakukan Yunus tidak patut dicontoh, tidak patut diajarkan pada anak-anak. Beberapa kali mengobrol dengan teman-teman di seminari, hampir semua berkata tidak pernah dianjurkan membaca kitab Yunus. 

Sebagian besar orang melihat Yunus sebagai pembangkang Tuhan. Orang yang lari dari panggilan, dan sering kali berdebat dengan Dia. Tapi di mataku, Yunus memiliki satu nilai lebih yang berbeda dari tokoh lainnya. Yunus tidak munafik.

Ya, Yunus tidak munafik. Ia lari ketika merasa panggilan itu tidak tepat baginya. Ketika ia diutus untuk ke Niniwe dan memberitakan kabar kepada orang-orang di sana, Yunus pergi melarikan diri naik kapal. Bisa kalian bayangkan? Melarikan diri dari Tuhan. Tapi sekalipun dia melarikan diri, dia bertanggung jawab. Ketika kapal diamuk badai, dan orang-orang di kapal saling berdoa pada Tuhannya masing-masing, Yunus malah berkata, "Angkatlah aku, campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kamu lagi. Sebab aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu." (Yunus 1:12)

Dia adil, dia bertanggung jawab. Dia berani menanggung resiko atas perbuatannya dan tidak mengajak orang lain ikut bertanggung jawab atas perbuatan yang dia lakukan. Dia tidak munafik. Dia jujur dan apa adanya. Ketika terjadi perbedaan pendapat antara ia dengan Tuhan, Yunus dengan apa adanya mengemukakan pemikirannya. Bahwa menurutnya tidak ada gunanya menyelamatkan Niniwe. Tanpa kemunafikan, ia berani berbeda dengan Tuhan, menjadi dirinya apa adanya. Yunus tidak menjilat dengan selalu menyetujui Tuhan tanpa mengerti apa sebenarnya maksud dan tujuan Tuhan. Ia menjadi berbeda, bertentangan, kemudian berdebat dengan Tuhan. Tapi dengan perdebatan itu, aku bisa melihat bahwa Yunus justru semakin mengenal dan memahami Tuhan. Bukan sekadar mencintai dan memuja tanpa dasar.

Aku jatuh cinta pada sosok Yunus. Sekalipun ia pembangkang, lari dari tugas panggilannya, tapi di balik semua itu ia adalah sosok yang berani, apa adanya, cerdas (atau sinting, entah. Cerdas dan sinting itu beda tipis), dan bertanggung jawab.

Aku pikir tidak banyak orang seperti Yunus sekarang ini. Ketika kita salah, kita tidak mau disalahkan sendirian. Kita ingin mengajak orang lain untuk ikut merasakan resiko dari kesalahan kita. Kita tidak mau menjadi pendosa sendirian. Tidak seperti Yunus.

Tidak banyak yang mau melihat sisi lain dari Nabi Yunus ini. Kebanyakan hanya melihatnya sebagai pembangkang yang lari dari Tuhan. Tapi bukankah Yunus itu manusia? Dan salahkah bila manusia dalam satu masa hidupnya lari dari Tuhan, mencari ke luar, mempertanyakan? Bukankah lebih baik begitu daripada memuja tanpa dasar dan tanpa pemahaman? Itu namanya cinta buta. 

Yunus mencari, Yunus mempertanyakan, Yunus tidak setuju, Yunus keluar dari pakem, dan sayangnya orang tersebut jarang mendapatkan tempat khusus. Kebanyakan orang seperti itu terbuang di antara manusia lainnya. Tapi apakah ia terbuang di mata Tuhan? Dari Kitab tersebut tidak. Tuhan malah senantiasa melindunginya, dan mengajarkannya secara halus dan penuh kasih sayang. Mencandai hambanya yang cerdas (sinting) tapi tidak munafik itu.

Aku bertanya-tanya, seberapa besar kesamaan Yunus dengan aku.

Sunday, 22 July 2012

Jangan Takut Membuat Keputusan!

I once was lost... But now I'm found...

-Amazing Grace-






Pernah aku pergi, hilang, mempertanyakan. Awalnya hanya sedikit melangkah keluar. Tanpa sadar, aku sudah melangkah terlalu jauh hingga kehilangan arah. Tidak mengerti kemana aku harus pulang, ke arah mana tempat segala kelelahan ini bisa aku buang.

Aku memang nakal. Tidak suka menerima konsep yang sudah ada begitu saja. 'Bertanya' adalah nama tengahku. Susunan konsep mengenai dunia ini yang diakui oleh masyarakat aku tolak mentah-mentah, aku preteli, untuk kemudian aku susun kembali dengan caraku sendiri. Entah hasilnya akan sama atau tidak dengan konsep sebelumnya yang sudah ada, tetapi yang jelas aku lebih bisa menerimanya. Aku lebih bisa menerimanya menjadi bagian dari diriku, kehidupanku.

Hingga suatu hari, ternyata aku pergi terlalu jauh. Tersesat dalam banyaknya pilihan, tersesat dalam keping-keping konsep yang coba aku susun sendiri.

Tapi kini aku sudah membuat keputusan. Aku pulang...

Dan pulang ternyata juga tidak mudah. Ada banyak pertanyaan, ada banyak celaan, ada banyak penghakiman. Verbal maupun non verbal. Tapi sejak hari itu, ketika aku berdoa di Kerep dan membuat keputusan, aku tahu semua ini memang tidak akan pernah mudah.

Tidak ada yang bilang bahwa jalan yang aku pilih ini aman-aman saja. Tanpa kerikil, tak berdebu, dan bertanah empuk. Tidak ada yang bilang bahwa aku akan mampu menjalaninya dengan mudah. Tidak ada yang bilang bahwa jalan ini menjamin aku sejahtera (ya iya, yang aku pilih itu kan agama, bukannya pesugihan :p). Tapi aku memang tidak butuh semua jaminan itu. Karena aku tahu harga yang aku bayar pantas. Semua air mata ini, semua rasa sakit ini, semua rasa kecewa ini menurutku tidak terlalu berlebihan untuk dapat merasa lebih dekat dengan Dia.

Dan aku bangga akan keputusanku. Keputusan yang aku ambil berdasarkan kata hatiku sendiri, bukan mendengarkan orang lain, atau sekadar mengikuti keluarga apalagi tradisi. Dengan begini aku merasa lebih yakin bahwa aku bisa mempertanggungjawabkan keputusanku. Aku merasa aku lebih bisa menghayati keputusanku. Dan satu lagi, aku bangga karena telah menggunakan hak kebebasanku sebagai makhluk bernama manusia yang diberi akal dan budi, sehingga ia memang ditakdirkan untuk berpikir, menimbang, dan merasakan, bukan sekadar ikut-ikutan. Sayangnya, banyak orang takut mengambil jalan yang berbeda.

Padahal menurutku sebagai manusia kita memang diberi hak penuh untuk hidup. Yang aku maksud hidup di sini bukan sekadar bernapas, berjalan, makan, minum, ataupun kentut. Yang aku maksud hidup di sini adalah mengenal diri sendiri, mengenal dunia yang sudah diberikan pada kita sejak kita lahir, mengakrabi Tuhan, sadar akan keberadaan kita, berpikir, merasa, menimbang, dan membuat keputusan. Hewan dan tumbuhan tidak sebebas itu...

Jadi, kalau Tuhan sudah begitu baiknya menganugerahi kita hak istimewa, kenapa kita harus ragu dan takut menggunakannya hanya karena takut pada apa yang disebut 'omongan orang'? Bukan berarti aku bilang kita tidak perlu mendengarkan orang lain. Mendengarkan itu penting. Hanya saja, bukan berarti pendapat orang lain itu menjadi satu-satunya kiblat hidup kita. Diri kita sendiri, tetap saja menjadi pengatur utama kehidupan kita.



So guys, saranku, jangan takut untuk memilih jalan yang berbeda dengan jalan yang dipilih orang lain. Putuskan jalanmu sendiri, ambil arahmu sendiri. Bukan sekadar jalan yang dipilih orang tuamu, kakakmu, temanmu, nenek moyangmu, atau bahkan pacarmu. Bahkan jangan pernah takut sekalipun jalan itu terlihat berdebu, gelap, penuh batu, dan tidak aman sama sekali. Selama kamu sudah yakin bahwa jalan itu terbaik untukmu, just go through it! Jalani saja.



Sekarang, aku sudah memilih dan aku bahagia dengan pilihan ini, sekalipun tidak mudah bagiku untuk menjalaninya. Sekalipun banyak lebah berdengung akibat pilihanku ini. Tapi tidak masalah... Aku anggap saja semua itu sound effect menarik yang mengiringi perjalanku ini. Dan sekarang, dengan suka cita aku bisa berkata pada Dia, "Anak nakalMu yang hobinya bertanya ini sudah pulang. Pasrah untuk Kau bentuk dan Kau utus."

Dan aku, tidak lagi takut membuat keputusan sekalipun jalan yang aku pilih itu berbeda. :)