Showing posts with label morningthink. Show all posts
Showing posts with label morningthink. Show all posts

Saturday, 28 July 2012

Daun-Daun Hijau

Bandung cukup dingin pagi ini. Dalam perjalanan pulang dari gereja, entah kenapa aku malah tertarik pada daun-daun hijau di sepanjang jalan Merdeka.






Aku kagum pada daun. Dengan tegar mereka bergantung pada ranting-ranting, menampilkan yang terbaik dari mereka, yang tersegar dari diri mereka, warna hijau yang meneduhkan, seperti sedang fashion show. Padahal mereka tahu, akan tiba masanya zat klorofil mereka akan berkurang, mereka menua, menjadi cokelat, layu, kemudian jatuh ke tanah. Kering...




Aku pikir selayaknya manusia pun seperti itu. Kita tahu nggak ada yang abadi. Kita tahu kita pasti mati. Kita tahu kita bisa gagal dan jatuh. Tapi semua itu nggak seharusnya menjadikan kita takut bersinar, takut menunjukkan yang terbaik dari kita.

Sebaliknya, kita harus tetap melakukan yang terbaik. Menggunakan seluruh 'klorofil' yang kita miliki, dan menghiasi dunia, meneduhkan dia, sampai tiba waktu kita untuk layu, kering, dan jatuh.

Meski begitu, terkadang ada juga daun segar yang masih hijau yang sudah jatuh. Jatuh sebelum waktunya. Aku bertanya-tanya, kenapa? Apakah daun itu takut menjadi tua? Takut menjadi cokelat, menjadi jelek. Jadi ia memilih jatuh ketika masih hijau. Atau mungkin ia lelah bertahan di usia muda? Kenapa?


Aku rasa banyak juga manusia yang seperti daun-daun hijau yang memilih jatuh tersebut.

Monday, 23 July 2012

Menjadi Manusia Itu Indah

Pagi ini bangun pukul 08.03. Bandung, sejuk.


Muka baru bangun tidur langsung ambil handphone buat foto

Hal pertama yang terlintas dalam pikiranku adalah, aku bangga dilahirkan sebagai manusia. Bukan hanya karena kita diberi akal dan budi, tetapi sungguh-sungguh karena Dia menciptakan kita dengan begitu indah dan kompleksnya. Iya, complex. Kita ini makhluk ciptaan yang complexSegala sesuatu pada diri kita mengandung filosofi, simbol-simbol yang menyembunyikan maksud atau kehendak Dia. 

Pikirkan bagaimana nikmatnya menjadi manusia. Diberi sepasang mata untuk melihat keindahan dunia dan dalam beberapa kasus untuk menunjukkan pada dunia keindahan dalam diri kita yang terkadang tidak mampu kita ungkapkan melalui kata-kata. Aku berpikir bahwa proses yang dilalui mata kita hingga bisa melihat suatu benda mulai dari masuknya sinar yang seingatku menembus lensa mata, yang kemudian membiaskannya dan kemudian sinar tersebut jatuh secara terbalik di retina mata, dan sinar tersebut kemudian diubah menjadi sinyal-sinyal yang diteruskan oleh syaraf ke otak untuk diterjemahkan, menurutku luar biasa. Proses yang tidak kita sadari dan tidak kita rasakan tetapi bisa kita rasakan manfaatnya.

Dan Dia memberi kita sepasang mata, bukannya cuma satu. Dan sepasang mata itu diletakkan di kanan dan kiri, dan bukannya di tengah, dengan posisi atas dan bawah. Menurutku supaya kita juga bisa melihat segala sesuatu dari sisi yang lebih luas, lebih banyak, dan bukan hanya satu sisi saja.

Kita juga diberi sepasang telinga yang juga diletakkan di kanan dan kiri supaya kita bisa mendengar tidak hanya dari satu sisi. Kita diberi sepasang telinga, tetapi hanya diberi sebuah mulut. Ku pikir dengan ini Dia mau bicara pada kita bahwa Dia menghendaki kita lebih banyak mendengar terlebih dahulu sebelum banyak bicara. Sayangnya banyak orang justru lebih banyak bicara dan jarang mendengar.

Dan bagaimana indahnya kita bisa mencium berbagai aroma, mengecap berbagai rasa, mengingat berbagai kejadian dan hal-hal yang dianggap penting. Bagaimana kulit kita bisa merasakan sentuhan, kehangatan, dingin, ataupun rasa sakit. 

Bagaimana kita, sebagai manusia, diberi kebebasan untuk berkehendak, untuk berpikir dan berkembang. Menurutku itu indah. Menjadi manusia itu indah. Dan menyadari semua itu, aku merasa...

bangga menjadi manusia...