seekor katak
di pinggir kolam
memandang ke atas
mendamba bulan
di mata sang katak
bulan betul-betul dewi malam
bukan benda langit berongga
yang hanya tahu memantulkan cahaya
sementara dirinya sendiri
tak punya apa-apa
katak jatuh cinta
pada bulan yang anggun baginya
ia seekor katak tua,
tapi rasanya kembali jadi remaja
ada-ada saja
ia ingin mengirimkan kata cinta
maka ia bernyanyi
merangkai gita cinta
mencoba menggoda bulan
supaya jatuh hati padanya
bulan bersinar redup,
malu-malu
ia tak biasa dipuja katak
biasanya ia dipuja pria yang sedang mencoba merayu wanitanya
katak bernyanyi,
bulan semakin bersemu
malu-malu
kali ini katak merasa betul-betul
menemukan tambatan hatinya
ia ingin memiliki bulan
untuk dirinya sendiri
katak berpikir, bagaimana caranya?
ia harus menghampiri bulannya
maka katak melompat
setinggi mungkin demi bisa mencapai bulan
ia ingin pergi ke tempat bulan berada
menunggunya
katak melompat,
terus melompat
tak dipedulikannya lelah
bulir keringat mengalir di kulit hijau berlendirnya
malam semakin turun
fajar hampir tiba
waktu katak tidak banyak lagi
dan ia masih saja melompat
tidak mau menyerah
di matanya,
bulan menunggu dengan cantik di atas sana
menunggu untuk dimiliki olehnya
bulan semakin memudar
seolah langit memisahkan mereka,
dan mentari tidak rela
jika katak bersanding dengan bulan
katak semakin tergesa-gesa
waktunya kini sempit
ia terus melompat, melompat
dan melompat
katak tidak peduli
kalaupun lompatannya tak pernah cukup tinggi
ia hanya peduli
sang bulan yang ingin ia miliki
Monday, 6 August 2012
Sunday, 5 August 2012
Tirai-Tirai Sunyi
tirai-tirai sunyi
di jendela
bergantung, berjejer
rapi, berbahan manik-manik
berwarna coklat
bukan coklat pekat,
tapi warna kayu yang hangat
sehangat sebuah genggaman
di kala tangan membeku karena hujan
tirai-tirai sunyi
setia bertengger di jendela
sesekali menari dipermainkan angin
mencoba berbahasa tanpa suara
menggodaku,
ia tahu aku sedang memandanginya
tirai-tirai genit
tirai-tirai sunyi
tak pernah beranjak dari jendela
diam-diam menyimpan rahasia
mereka tahu segala cerita
impian yang memacuku
termasuk obrolanku dengan langitpun,
mereka curi dengar
tirai-tirai nakal
tirai-tirai sunyi
tempatku sesekali berbagi mimpi
mereka diam, patuh, mendengarkan
tak pernah mencemooh, tak pernah menyangsikan
tirai-tirai pengertian
tirai-tirai sunyi
menyerap rindu, tawa, dan air mata
tak pernah ikut bercerita
hanya diam mendengarkan
tak pernah ingin berkomentar
hanya mengangguk penuh pengertian
entah mengangguk atau dipermainkan angin
tirai-tirai tanpa kepalsuan
tirai-tirai sunyi di jendela,
malam ini mari kembali berbagi mimpi
di jendela
bergantung, berjejer
rapi, berbahan manik-manik
berwarna coklat
bukan coklat pekat,
tapi warna kayu yang hangat
sehangat sebuah genggaman
di kala tangan membeku karena hujan
tirai-tirai sunyi
setia bertengger di jendela
sesekali menari dipermainkan angin
mencoba berbahasa tanpa suara
menggodaku,
ia tahu aku sedang memandanginya
tirai-tirai genit
tirai-tirai sunyi
tak pernah beranjak dari jendela
diam-diam menyimpan rahasia
mereka tahu segala cerita
impian yang memacuku
termasuk obrolanku dengan langitpun,
mereka curi dengar
tirai-tirai nakal
tirai-tirai sunyi
tempatku sesekali berbagi mimpi
mereka diam, patuh, mendengarkan
tak pernah mencemooh, tak pernah menyangsikan
tirai-tirai pengertian
tirai-tirai sunyi
menyerap rindu, tawa, dan air mata
tak pernah ikut bercerita
hanya diam mendengarkan
tak pernah ingin berkomentar
hanya mengangguk penuh pengertian
entah mengangguk atau dipermainkan angin
tirai-tirai tanpa kepalsuan
tirai-tirai sunyi di jendela,
malam ini mari kembali berbagi mimpi
Bulan yang Takluk
bulan merunduk
muram, merajuk
pantulan sinarnya keruh
keanggunannya ia tinggalkan jauh
sebabnya:
ia takluk
oleh mentari yang tak mampu ia peluk
Friday, 3 August 2012
Untuk Lelaki yang Menanti Hujan,
malam ini aku datang sebentar
menjengukmu sekadar
tapi tidak bisa temani hingga fajar
maaf
aku harus pergi
jangan coba kau tahan
aku harus pergi
biarkan aku jatuh sebagai tetesan
merasuki butir-butir tanah
menjadikannya basah
tapi aku janji
aku cepat-cepat kembali
ke laut atau ke sungai
mencari matahari esok hari
minta dimantrai
menguap ke langit menjadi awan
awan mendung bergulung-gulung
kemudian jatuh di hadapanmu sebagai hujan
menyapamu esok hari
masih aku yang sama...
menjengukmu sekadar
tapi tidak bisa temani hingga fajar
maaf
aku harus pergi
jangan coba kau tahan
aku harus pergi
biarkan aku jatuh sebagai tetesan
merasuki butir-butir tanah
menjadikannya basah
tapi aku janji
aku cepat-cepat kembali
ke laut atau ke sungai
mencari matahari esok hari
minta dimantrai
menguap ke langit menjadi awan
awan mendung bergulung-gulung
kemudian jatuh di hadapanmu sebagai hujan
menyapamu esok hari
masih aku yang sama...
Pengakuan Seorang Mantan Tukang Bully
Malam ini mungkin akan menjadi malam pengakuan. Terlalu banyak pengakuan digelar di sini.
Akhir-akhir ini ramai dibicarakan soal kasus bullying yang dilakukan 7 siswa SMA Don Bosco terhadap juniornya. Berbagai opini muncul. Topik mengenai bullying kembali hangat setelah selama ini seolah ditanggapi dengan dingin.
Di postingan ini, aku mau mengaku. Dulu, sekali waktu, aku adalah seorang pelaku bullying. Tidak secara fisik memang, lebih secara psikis. Tapi efeknya sama, atau bahkan mungkin lebih besar. Kami mengucilkan seorang anak, mengejeknya, menyindirnya, tidak mengacuhkannya. Bersikap seolah dia itu tidak pernah ada dalam ruang udara kami, berusaha membuatnya merasa dirinya itu sampah, loser.
Sekarang kalau mengingat dan memikirkan itu, aku sedih. Aku melakukan itu saat kelas 5 SD dan hal itu berlangsung sampai aku lulus SD. Demi Tuhan, aku sendiri tidak mengerti kenapa saat itu, aku bisa berbuat seperti itu. Padahal aku dan tiga orang temanku yang lain adalah anak berprestasi, terkenal baik dan tidak pernah bermasalah di depan guru. Sampai sekarang, tidak pernah ada satupun guru yang tahu apa yang kami lakukan pada anak tersebut.
Tapi kalau dipikirkan sekarang, dulu apa yang kami lakukan betul-betul kejam. Tidak perlu ku deskripsikan, tetapi yang kami lakukan dulu lebih dari sekadar hanya mencemooh. Semua itu memang tidak menyebabkan luka fisik. Tapi apakah hal tersebut tidak menimbulkan luka mental pada anak yang kami perlakukan (terlalu) buruk tersebut?
Untungnya memasuki SMP, aku mulai berpikir lebih dalam dan mungkin bisa dibilang lebih dewasa. Tidak ada bully, tidak ada tekanan. Yang jelas kalau dipikirkan sekarang, aku melakukan semua itu hanya karena aku merasa keren, dan bergengsi tinggi. Padahal semua yang aku lakukan itu tidak ada yang baik. Bahkan teramat buruk dan tidak keren sama sekali. Tapi waktu kecil dulu, aku memang egois dan keras kepala. Manja dan semaunya.
Ada tiga anak yang dulu sering kami bully secara psikis. Satu di antaranya, sudah meninggal karena sakit saat kami SMP sebelum aku sempat meminta maaf. Dua di antaranya, menjalani hidup masing-masing. Entah dengan membawa luka batin atau tidak.
Rasanya aku ingin semua orang bisa menyadari bahwa bullying itu benar-benar buruk. Bullying menimbulkan luka, tidak hanya untuk korbannya, tetapi juga untuk mantan pelaku sepertiku. Kalau bisa kembali ke masa lalu, rasanya aku ingin menampar diriku sendiri dan membangunkannya dari kesenangan dan kebanggaan yang hampa. Sekarang, aku hanya berpikir betapa kriminalnya aku ketika kecil dulu.
Rasa Takut Memanusiawikan Kita
Semua orang pasti punya rasa takut. Karena, semua orang diciptakan dengan rasa takut. Bedanya, tidak semua orang cukup berani untuk mengakui bahwa dia takut. Takut pada sesuatu, maupun seseorang.
Di postingan ini, aku ingin membuat pengakuan mengenai beberapa rasa takutku. And they are...
1. Ketinggian
Iya, aku mengidap acrophobia. Sejak jatuh dari atas pagar sewaktu sedang bermain saat kecil, aku jadi takut ketinggian.
Bahayanya, salah satu obsesiku adalah bisa berdiri di atas Puncah Mahameru, tanah tertinggi di Pulau Jawa. Bisa dibayangkan bagaimana repotnya nanti kalau fobia ini tidak bisa sembuh?
2. Kecoak
Untuk hewan yang satu ini, no comment.
3. Parno kalau naik eskalator
OK, cupu memang. Tapi ini serius, jujur. Masih berhubungan sama takut ketinggian, aku suka parno kalau naik eskalator sendirian. Apalagi kalau eskalatornya itu terasa goncangan mesinnya. Sampai taraf takut yang akut memang tidak, tapi cukuplah bikin jantung deg-degan.
Di samping ketiga hal yang sudah aku sebutkan sebelumnya, masih ada takut kehilangan, takut mengecewakan, takut menyakiti orang, takut membuat khawatir, dan beberapa rasa takut lainnya. Beberapa ada yang sudah tidak terlalu gawat lagi, beberapa ada yang masih butuh dikendalikan. Setidaknya, sekarang aku sudah mau mengakuinya.
Banyak orang takut mengakui rasa takutnya. Alasannya, takut dianggap lemah. Malu, apalagi kalau rasa takutnya mungkin bisa digolongkan aneh atau sepele. Tapi menurutku rasa takut itu sebenarnya baik.
Dengan rasa takut, kita menjadi sungguh-sungguh manusia. Dengan rasa takut, kita diingatkan untuk tidak sombong. Dengan rasa takut, kita terpacu untuk berbuat lebih baik. Takut menjadikan kita manusiawi. Aku tidak percaya kalau ada orang yang sama sekali tidak punya rasa takut. Omong kosong.
Permasalahannya adalah, apakah kita mau atau tidak untuk mengakui rasa takut tersebut. Terkadang, rasa takut menjadi lebih mudah dihadapi ketika kita mengakui dan menerimanya sebagai bagian dari diri kita.
Sebuah Obrolan Kecil Mengenai Pacaran
Kemarin sore, duduk berhadapan dengan kamu di sebuah restoran yang sering sekali disebut kapitalis oleh segolongan orang, menikmati makan berat pertamaku hari itu. Kita bertukar cerita tentang masa kecil kita, kuliah kita, teman-teman kita, seperti biasanya.
Sampai kemudian aku melontarkan pertanyaan yang ternyata berhasil membuatmu terkejut. Ya, setidaknya dari ekspresi yang kamu munculkan begitu mendengar pertanyaanku, kamu terkejut. Padahal aku hanya bertanya, "Kenapa ya kita ini harus pacaran?"
Kamu sedikit tersedak. Tampak lucu seperti di film-film. Ada hening sesaat di antara kita sebelum kamu balik bertanya, "Kenapa kamu? Nyesel?"
Aku tertawa. "Bukan, bukan gitu. Maksudku bukan kita cuma kita berdua, tapi semua orang. Kenapa ya ada yang namanya pacaran? Buat apa sebenarnya pacaran?"
Kamu mengernyitkan dahi, bingung. Mungkin kamu berpikir pertanyaanku aneh, aku aneh. Aku hanya tertawa saja menyaksikan reaksimu. "Kalau aku jawab buat saling mengenal dan saling perhatian, kamu pasti bilang tanpa pacaran juga kita bisa kayak gitu. Jadi jujur, bingung sebenarnya jawab pertanyaan kamu."
Aku tersenyum. Sebenarnya aku tampak jahat karena aku menikmati ekspresi bingungmu. Dan sebenarnya aku memang tidak menginginkan jawaban. Aku bertanya hanya karena ingin melihat ekspresimu. Jahil ya? :)
Sekalipun sebenarnya aku memang menganggap 'pacaran' itu sebagai salah satu konstruksi sosial yang aneh.
Kamu bertanya lagi, kali ini terdengar betul-betul penasaran, "Jadi, kamu nyesel ga kita pacaran?"
Sambil tersenyum, aku menjawab, "Kasih tahu nggak ya...?"
Dan makan sore itu ditutup dengan gelak tawa.
Sampai kemudian aku melontarkan pertanyaan yang ternyata berhasil membuatmu terkejut. Ya, setidaknya dari ekspresi yang kamu munculkan begitu mendengar pertanyaanku, kamu terkejut. Padahal aku hanya bertanya, "Kenapa ya kita ini harus pacaran?"
Kamu sedikit tersedak. Tampak lucu seperti di film-film. Ada hening sesaat di antara kita sebelum kamu balik bertanya, "Kenapa kamu? Nyesel?"
Aku tertawa. "Bukan, bukan gitu. Maksudku bukan kita cuma kita berdua, tapi semua orang. Kenapa ya ada yang namanya pacaran? Buat apa sebenarnya pacaran?"
Kamu mengernyitkan dahi, bingung. Mungkin kamu berpikir pertanyaanku aneh, aku aneh. Aku hanya tertawa saja menyaksikan reaksimu. "Kalau aku jawab buat saling mengenal dan saling perhatian, kamu pasti bilang tanpa pacaran juga kita bisa kayak gitu. Jadi jujur, bingung sebenarnya jawab pertanyaan kamu."
Aku tersenyum. Sebenarnya aku tampak jahat karena aku menikmati ekspresi bingungmu. Dan sebenarnya aku memang tidak menginginkan jawaban. Aku bertanya hanya karena ingin melihat ekspresimu. Jahil ya? :)
Sekalipun sebenarnya aku memang menganggap 'pacaran' itu sebagai salah satu konstruksi sosial yang aneh.
Kamu bertanya lagi, kali ini terdengar betul-betul penasaran, "Jadi, kamu nyesel ga kita pacaran?"
Sambil tersenyum, aku menjawab, "Kasih tahu nggak ya...?"
Dan makan sore itu ditutup dengan gelak tawa.
Subscribe to:
Posts (Atom)





